Strategi Cerdas Negara Iran Hadapi Amerika Serikat Terkait Tudingan Nuklir
Studi terbaru mengungkap bagaimana ketegangan nuklir Iran-Amerika berdampak besar terhadap Timur Tengah dan energi global. Solusi diplomatik kini jadi kebutuhan mendesak.
IRANAMERIKA SERIKATTUDINGAN NUKLIR
Jia Aviena
6/17/20252 min read
alibipolitik.com - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat terkait program nuklir terus menjadi sorotan dunia, bukan sekadar konflik bilateral, melainkan titik api geopolitik yang berpotensi mengguncang stabilitas Timur Tengah dan pasar energi global.
Sebuah studi terkini yang diterbitkan dalam Jurnal Studi Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi (Vol. 2, No. 2, Mei 2025) oleh Eugenia Kana dan Atika Puspita dari Universitas Hasanuddin menganalisis implikasi geopolitik dan keamanan regional dari konflik ini. Penelitian ini menyoroti bagaimana kombinasi antara strategi militer, ideologi, tekanan ekonomi, dan aliansi global membentuk dinamika yang sangat kompleks di kawasan tersebut.
Geopolitik Nuklir: Selat Hormuz sebagai Kunci Strategis
Iran menempati posisi geografis vital di dekat Selat Hormuz jalur distribusi 20% pasokan minyak dunia. Lokasi ini dijadikan alat tawar oleh Iran untuk melawan tekanan Barat, terutama sejak AS menarik diri dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2018.
Menurut studi ini, Iran kerap menggunakan strategi “asimetris” seperti mendukung kelompok non-negara (misalnya Hizbullah dan Houthi) untuk memperluas pengaruh tanpa konfrontasi langsung. Di sisi lain, Amerika Serikat membangun aliansi regional de facto bersama Israel dan negara-negara Teluk dalam rangka menyeimbangkan ancaman dari Iran (balance of threat theory, Walt 1987)
Ketegangan Semakin Dalam Pasca-JCPOA
Kesepakatan JCPOA 2015 awalnya diharapkan menjadi jalan damai. Namun penarikan AS di bawah Presiden Donald Trump, diikuti dengan kebijakan maximum pressure, justru memperparah keadaan. Iran pun meningkatkan level pengayaan uranium di luar batas perjanjian.
Sementara Presiden Hassan Rouhani mencoba jalur diplomasi, kelompok konservatif di Iran justru semakin menguat, terutama setelah AS dinilai ingkar janji. Kemenangan Ebrahim Raisi dalam pemilu 2021 menjadi sinyal pergeseran ke arah kebijakan luar negeri yang lebih keras.
Konflik ini telah memicu:
Ketegangan diplomatik dan militer di Teluk Persia.
Konflik proksi di Yaman, Suriah, dan Lebanon.
Ancaman terhadap pasar minyak global, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz.
Keterlibatan kekuatan besar seperti China dan Rusia yang mendukung Iran secara strategis dan ekonomi.
China bahkan menandatangani perjanjian strategis 25 tahun dengan Iran untuk investasi energi dan infrastruktur, sementara Rusia menjadi sekutu militer Iran di Suriah.
📝 Sumber:
Seran, E. K. D. T., & Marzaman, A. P. (2025). Program Nuklir Iran dan Ketegangan dengan Amerika Serikat: Analisis Geopolitik dan Implikasi terhadap Stabilitas Timur Tengah. Jurnal Studi Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi, 2(2), 176–192. https://doi.org/10.62383/studi.v2i2.322
